Sabtu, 20 Juni 2015

UT Membangun Pagar Bangsa


“ Membangun Pagar Bangsa Bersama Bidikmisi“

Ini kisahku, semoga kalian bisa memetik hikmah dibalik kisah ini dan bermanfaat untuk kehidupan anda. Amin....



Ditulis oleh : Hariyadi
NIM : 022106472 
Mahasiswa FISIP Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis
Universitas Terbuka Banjarmasin 2014

****
Tidak banyak yang dapat ku kisahkan, hanya saja semua berawal dari mimpiku. Kutulis satu persatu mimpiku dalam selembar kertas. Kusimpan kertas itu dalam buku yang sungguh rahasia. Hanya aku dan buku itulah yang tahu. Satu demi satu targetku tercoret dan menandakan targetku sudahlah tercapai.

Sebelum jauh bercerita, aku akan memperkenalkan diriku pada kalian yang sempat memalingkan wajah menyimak untaian kata yang tergores dalam lembaran putih ini, nama lengkapku Hariyadi, orang-orang biasa menyapaku dengan panggilan Hari.
Aku lahir dua puluh tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 11 Juni 1995 di sebuah perkampungan kecil di ujung pelosok desa yang penuh dengan persawahan yang di kelilingi pohon-pohon kecil di Desa Pamitai, sebuah desa kecil yang ada di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Aku lahir dari sebuah keluarga kecil dan sederhana, ya, aku dilahirkan dalam kesederhanaan dan juga dibesarkan dalam keserderhanaan, namun dari kesederhanaan itu aku belajar untuk hidup. Ayah dan ibuku bekerja sebagai seorang petani yang dalam kesehariannya mereka menghabiskan waktunya bergumul dengan kebun dan sawah, namun aku bangga memiliki mereka. Mereka adalah orang-orang hebat yang kumiliki, mereka adalah pahlawan hidupku yang telah menghabiskan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk memberi sesuap kebahagiaan pada kami anak-anaknya. Hobbiku adalah bermimpi dan berpetualang dengan alam bebas, namun pemimpi yang tidak hanya sekedar bermimpi tetapi menjadikan mimpinya sebagai motivator untuk meraih kesuksesan.

Aku menghabiskan masa kecilku bercengkrama dengan alam bebas dalam suasana layaknya anak kampung dan mulai menginjakkan kaki di dunia pendidikan pada tahun 2001 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pamitai 1 Sei. Tatas, Kabupaten Kapuas. Kondisi sekolah itu pun jauh dari kata layak pakai. Namun, semua tidak membuat saya dan teman-teman untuk menoloknya karena itulah adanya kondisi selanjutnya yang tidak kalah memprihatikan adalah tahun 2007. Setelah tamat jenjang sekolah dasar, aku tidak melanjutkan pendidikan karena Kondisi kehidupan orang tuaku yang tidak memungkinkan, bisa dibayangkan untuk makan sehari–hari saja susah apalagi harus mengekolahkan aku. Hatiku perih ketika mereka tidak bisa melanjutkan aku sekolah, tetapi aku harus kuat mungkin Tuhan ingin memberikan aku jalan lain.
Hari terus berjalan setahun kehidupan ku jalani, membantu Ibu dan Ayah di sawah. Setiap hari keringatku bercucuran di bawah panasnya terik matahari. Akhir Mei 2008 salah satu sekolah pengumumkan akan menerima siswa baru dengan biaya gratis. Mendengar hal itu aku kemudian meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk melanjutkan sekolah. Awalnya mereka menolak karena meskipun sekolah gratis tetapi untuk mencukupi biaya sehari – hari untuk sekolah bagaimana? Tentunya tidak semua gratis, bagaimana makan, tempat tinggal, dan sebagainya ? akupun mencoba meyakinkan hati orantuaku. Bahwa akupun bisa bertahan untuk keadaan itu demi masa depan yang lebih baik.
Akhirnya orang tuaku mengijinkan aku pergi sekolah. Di mana sekolah tempat menuntut ilmu itu sangatlah jauh dari rumah kedua orang tuanku, memperlukan waktu satu hari dengan naik transportasi laut atau sekitar 250 Km. aku meninggalkan kampung halamanku untuk mengejar mimpi-mimpiku. di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara Ibu Kota Amuntai, aku mulai bersekolah dari 2007 sampai 2011. Pada akhir kelulusan di MTsN aku berhasil meraih Juara 2 nilai tertinggi Ujian Sekolah dan prestasi yang membanggakan, yang sempat membuatku kaget serta menangis dimana terpilihnya aku sebagai Siswa Teladan Perpustakaan Kabupaten Hulu Sungai Utara 2011 oleh Bapak Bupati Hulu Sungai Utara.
Aku melanjutkan sekolahku di salah satu sekolah unggulan sekaligus favorit di kota Amuntai tepatnya di SMK N 1 Amuntai jurusan Akuntansi. Selama tiga tahun aku menghabiskan waktuku untuk membedah setiap ilmu pengetahuan yang kudapatkan sebagai ukiran abadi dalam merangkai masa depan. Dan alhamdulillah pada tahun 2014, aku menyelesaikan studiku di bangku sekolah.

Mimpi terbesarku setelah lulus SMK adalah kuliah dengan beasiswa. Aku ingin meringankan beban orang tuaku.  Sudah lumayan besar beban mereka untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “ Jika ditambah dengan membiayai kuliahku sungguh tak mungkin bisa “ pikiranku . Memang begitu adanya. Bapakku adalah seorang petani. Tak tentu penghasilannya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya ekonomi keluargaku. Ya begitulah adanya, dengan penghasilan yang tak menentu harus bisa mengelolanya dengan baik . Alhamdulillah orang tuaku adalah orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Mereka tidak pernah mencela, yang terpenting adalah masih bisa membiayai sekolahku dan adekku  serta cukup untuk makan. Itulah motivasi terbesarku kenapa aku ingin kuliah dengan beasiswa. Aku sangat mengetahui  bagaimana kondisi keuangan keluargaku yang sungguh  tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahku. Semangat untuk belajar menjadi peganganku untuk meraih mimpi.

Lima tahun yang lalu, aku begitu ingat mimpiku semasa MTs adalah Meningkatkan peringkat paralel tiap semester. Aku harus katakan “ BISA “ untuk mimpiku ini. sudah buktikan hal itu.
Alhamdulillah, mimpi itu tercapai hingga akupun lulus dari MTs. Dari semester 1-6 peringkatku selalu meningkat dari Peringkat 12 sampai Juara 2. Tiap kali penerimaan rapot aku selalu berdoa agar mimpiku tercapai. Jujur, walaupun aku dinilai sedikit memiliki kemampuan dari pada teman-temankuku yang lain , tetapi aku bukanlah seperti mereka yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelajar. Insyaalloh, aku apa adanya, aku bisa ya aku jawab , jika teman bertanya dan aku bisa ya aku jawab.
Selama MTs sampai Aku SMK ada satu guru yang bener-bener  membuatku semangat dan menenangkan pikiranku. Beliau guru Ilmu Pengetahuan Alam. Siti Hapijah,S.Pd. namanya. Beliau bilang ”Be Your Self “ (jadilah menjadi dirimu sendiri) dengan mencapai prestasi terbaik kamu punya kesempatan memperbaiki kehidupan orang –orang yang kamu sayangi ! Nah, dari sinilah aku berpikir, “ bahwa jika aku bisa memperbaiki diriku, tidak akan mustahil aku bisa memperbaiki keluargaku, lingkunganku bahkan negeriku,.” Artinya tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau mencoba.
Aku tidak pernah berpikir akan melanjutkan ke perguruan tinggi karena kondisi ekonimi keluargaku yang sangat tidak memungkinkan aku belajar di bangku kuliah. Tak jarang teman-temankuku bertanya” har, kamu mau kuliah di mana?”. Kalau ditanya seperti itu, aku hanya menjawabnya dengan senyuman dan biarkan takdir hidupku yang menjawab dan nantikan jawabannya setelah lulus”.
Mulutku bisa berkata seperti itu, namun sungguh batinku tersiksa ” aku ingin kuliah, aku ingin kuliah kawan, seperti kalian ”.
Banyak  sekali mahasiswa yang mengunjungi sekolahanku untuk bersosialisasi perguruan tinggi mereka. Mereka sangat antusias memperkenalkan universitas mereka. Mulai dari prestasinya, beasiswanya, fasilitasnya, dll. Namun, aku hanya bisa terdiam dan mendengarkan celotehan mereka. Aku bingung. Aku pengin banget kuliah seperti mereka. Aku hanya bisa berharap semoga aku bisa seperti mereka kelak dan aku menggantikan posisi mereka di depan . “ Bisa gak yaa, aku seperti mereka kelak ? “ pikiranku sambil berhayal. Dari sekian banyak jurusan yang diperkenalkan ,  aku hanya tertarik pada satu jurusan, yaitu Ilmu Administasi. Tak ada yang lain yang mampu menggantikannya. Aku hanya ingin kuliah di jurusan ini. Keinginanku sungguh besar.
Pada suatu ketika, wali kelasku membawa sebuah kabar gembira tentang adanya beasiswa sampai lulus. Rasa tak percaya pun mengelilingi kepalaku. “Beasiwa Bidik Misi” namanya. Sungguh aku baru mendengar beasiswa itu, dalam benakku bertanya tanya  beasiswa apaan itu? Bagaimana cara mendapatkannya? Apakah aku bisa?.
Pokoknya aku bingung apa yang harus aku katakan, yang jelas “ aku pengin dapet beasiswa itu entah bagaimana caranya yang penting bisa kuliah tanpa memberatkan orang tua.
Banyak temanku yang mengojokk-ngojokiku untuk mendaftar beasiswa itu.  Mereka sangat mengerti keadaanku. Akupun menyampaikan kabar  ini ke orang tuaku. Mereka hanya berkata” Terserah kamu, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan kamu yang penting kamu selalu patuh kepada yang kuasa dan selalu menghormati bapak ibumu.” Mendengar tanggapan mereka ,  aku semakin bingung, bagaimana aku harus melangkah , apakah terus atau mundur. Mereka tak memberikan pendapatnya tentang beasiswa ini.  Maklumlah , mereka adalah orang biasa tak sekritis para pejabat pemerintah. Aku sadar itu. Alhamdulillah, aku mendapat ilham kalau aku harus daftar beasiswa itu. Kubulatkan tekadku dan kutanamkan rasa percaya diri bahwa aku bisa.
Aku bangkit, kutulis sebuah target dalam sebuah kertas, “ aku ingin kuliah dengan beasiswa” . Target itu masih begitu teringat di pikiranku, aku ingin itu bener-bener terwujud. Akhirnya akupun menyiapkan semua yang diperlukan dalam pendaftaran. Bapak, ibu dan semuanya pun ikut berperan. Alhamdulillah semua mendukung keinginanku. Perlahan tapi pasti. Ke sana sini. Dan berharap mimpiku kali ini menjadi nyata.
Pendaftaran pun tiba. Kedua orang tuaku tidak punya uang bahkan untuk sekedar membayar pendaftaran. Untungnya, kabar gembira datang lagi. Ada sebuah pengumuman di jendela kelasku . Begini bunyinya , “ Bagi siswa yang mendaftar beasiswa bidik misi, tidak diwajibkan membayar uang pendaftaran” sungguh aku bahagia. Terimakasih yaa Allah, kau berikan jalan untuk hamba-Mu ini. Akupun langsung daftar dan memilih perguruan tinggi mana yang akan aku masuki. Ternyata hanya Universitas Terbuka yang ada di otakku. Dan jurusannya Ilmu Administrasi itu pilihanku. Dengan alasan agar aku bisa sambil bekerja membantu kedua orang tuaku.
Berserah diri, mohon anugerah dari yang kuasa, dan mohon dibukakan pintu menuju sukses untuk agama, bangsa dan negara ini adalah doaku. Sepanjang siang dan malam, aku brdoa agar diberikan kemudahan dalam menghadapi masalah ini. Semoga lolos. Amin..
Dua bulan pun berlalu, ujian nasional sudah berakhir, tinggal memetik hasilnya. Kunanti semua itu dengan terus bertawakal kepada sang kuasa. Tak terasaa waktu begitu cepatnya.Tanggal 20 mei 2014, pengumuman ujian nasional. Hatiku degdegan tak karuan. Jujur yang aku takutkan adalah mampu mempertahankan predikat lulusan terbaik atau tidak. Pengumuman kelulusan begitu membingungkan, kabar burung kian membahana. Ada yang ngomong jam ini, jam ini dan jam ini. Ternyata yang bener jam 16.00 WIB. Sungguh hatiku gelisah tak menentu, apakah hasil dari semua usahaku? Apakah akan menjadi buah yang manis atau buah yang pahit.
Sekian lama, kunanti sang ayah . Dengan menaiki sepeda ku , ayah pergi ke sekolahan mengambil hasil ujian. Sungguh kasihan melihat bapakku.
Mengharukan ! Aku melihat ayah untuk mengangis yang pertama kalinya ketika ia membuka hasil ijuanku. Akupun ikut nangis. Pelan-pelan kubuka amplop itu.Ternyata “lulus dengan hasil memuaskan. Terimakasih yaa Allah, Engkau kabulkan permintaanku.
Kini tinggal menanti pengumunman hasil seleksi di Universitas Terbuka. Gak disangka, pengumuman dimajukan, Awalnya aku gak tau, namun sahabatku memberi informasi. Tak lama kemudian, diapun telpon kalo aku dinyatakan “ DITERIMA di Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin jurusan Ilmu Administrasi Bisnis”. Seperti mimpi , mimpiku benar-benar menjadi nyata. Aku gak percaya, aku diterima. Namun, temenku tetap ngotot kalo aku bener diterima.
Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah. Aku diterima dengan jurusan yang sangat aku pengin masuki. Tanpa pikir panjang, akupun ngomong sama ibu bapakku. Namun, apa yang terjadii?
Bapakku seraya sedih dengan kabar baik ini.kondisi ekonomi keluargaku yang sangat tidak mendukung. Aku tahu itu. Aku sadar, aku terlahir dari keluarga tak mampu, buat menyekolahkan aku saja susahnya minta ampun apalagi buat kuliah. Sejenak semangatku drop. Tinggal menunggu satu pengumuman lagi. “ Pengumuman Beasiswa Bidik misi”. Satu-satunya hal yang paling aku dambakan . Aku ingin kuliah seperti mereka, menjadi pendidik yang profesional bukan hanya mengedepankan pangkat, namun prestasi mengajar yang cemerlang. Aku ingin ituuu...
Kuceritakan semua pada bapakku. Tentang  beasiswa itu. Masa depanku ada pada beasiswa itu. “ Bapak, tolong bantuin doa yaa, semoga pengajuan beasiswaku diterima, amiin..” Bapak pun mengamininyaa...
Sebelum pengumuman, terlebih rumahku disurvey. Dari depan sampai belakang semuanya difoto. Rasa maluku sejenak hilang, intinya yang penting beasiswaku diterima.” Inilah aku dan rumah keluargaku” adanya kaya gini. Pihak yang menyurvei pun saling bercanda tawa dengan keluargaku, mereka bahagia berbincang-bincang dengan orang tuaku. Terlihat dari raut mukanya yang begitu ceria.
Pengumuman penerimaan beasiswa tak kunjung datang. Akupun bingung karena sebentar lagi sudah masuk masa orientasi. Nah, dua bulan setelah pengumuman beasiswapun diumumkan. Alhamdulillah “ Diterima” . Mungkin hal ini biasa saja bagi mereka, namun bagiku hal ini adalah moment yang paling luar biasa yang bisa aku capai dan bisa menjadi kenangan untuk diceritakan kepada anak cucuku kelak. Sujud syukur pun kupanjatkan pada Allah. Aku pengin nangis. Tatanggakupun ikut  menangis bahagia karena  moment ini. Banyak air mata berjatuhan. Kini, aku benar-benar merasa bangga dengan diriku sendiri. Entah harus dengan cara apa lagi , aku mengucapkan syukur pada yang kuasa. Allah telah mengabulkan pintaku ini.Aku berjanji pada diriku sendiri aku harus lebih baik lagi dan  menjadi insan yang berbakti pada agama, negeri dan bangsaku. Terimakasih beasiswaku, bidik misiku. Kau telah mengantarkanku  menggapai mimpiku menjadi mahasiswa UT.
Aku bangga menjadi mahasiswa Universitas Terbuka Banjarmasin
Aku bangga menjadi mahasiswa bidik misi
Aku bangga menjadi mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis, yang katanya jurusan paling bergengsi di Kota Banjarmasin. Alhamdulillah , aku bisa belajar di universitas negeri yang ada di tanah air ini.
Dengan semangat , usaha, doa, dan tawakal , semua mimpi bisa terwujud jika yang di atas menghendakinya. Kadang mimpi itu seperti khayalan semu,  namun hidup tak akan indah tanpa adanya mimpi. Betul..
Tak ada salahnya kita bermimpi asalkan mimpi itu sesuai dengan kemampuan kita. “ Bermimpilah selagi kita masih bisa bermimpi. Ingatlah, di dunia ini tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan segala kemungkinan itu akan terjadi.

Nothing is impossible and possible can happen .




“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar