Man Jadda Wa Jadda
Lelaki muda
berperawakan sedang dan tegap itu tengah berdiri di ujung senja, menatap
indahnya surya yang hendak menutup riwayat kerja di hari minggu. Lelaki itu
bernama Faris Adi Pratama, remaja 17 tahun yang telah bermetamorfosis menjadi
sosok lebih dewasa. Predikat ketua OSIS telah diraihnya, Ketua Pemuda Anti
Narkoba se-Kabupaten Hulu Sungai Utara pun telah digapainya. Teringat olehnya
akan cita-cita masa kecilnya, cita-cita yang sempat membawanya sebagai bahan
ejekan dan cemoohan oleh teman-teman Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
bahkan menjadi bahan tertawaan para siswa baru yang juga mengikuti Masa
Orientasi bersamanya. Ia sempat kecewa, terluka bahkan merasakan keinginannya
tidak akan pernah terwujud untuk selamanya. Namun ia sadar bahwa Allah akan
memberi anugerah terindah kepada setiap umat-Nya yang mau berusaha dengan
bekerja keras dan mengingat-Nya. Sebagaimana kata mutiara berbahasa arab yang
dibacanya, Man Jadda Wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ia
memegang mutiara itu, mutiara yang menjadi motivasi dikala merosotnya semangat
hidup, disaat duri-duri perjalanannya terasa begitu menusuk kaki.
“Mana ada kesuksesan
yang tidak memerlukan uang pelicin, cih, buang segala pemikiran bodohmu itu
Ris, kamu salah besar!” komentar Hendra saat mereka berdiskusi berdua.
“Tidak semua jalan
begitu Ndra, aku yakin bahwa tidak semua orang melancarkan aksi yang sama
seperti prasangkamu. Ada banyak orang diluar sana yang mampu berdiri tegap
tanpa melakukan hal demikian.” Sanggah Faris dengan suara pelan dan tegas.
“Terserahlah apa
menurutmu, bagiku, hanya 2 atau bahkan 1 dari 10 orang yang mampu melakukan hal
yang sama seperti kamu inginkan. Ya beginilah Ris, negeri kita yang lucu, sarat
dengan sensasi.” Ujar Hendra kemudian, menyampaikan kalimat bernada menyerah guna
mengakhiri proses diskusi yang telah dilakukannya bersama Faris selama 45 menit
lamanya.
Pembicaraan itu berakhir, lebih tepatnya diakhiri dengan gelapnya langit yang telah diselimuti cahaya kemerah-merahan.
Pembicaraan itu berakhir, lebih tepatnya diakhiri dengan gelapnya langit yang telah diselimuti cahaya kemerah-merahan.
Bel tanda istirahat
berbunyi nyaring, menandakan bahwa kesempatan untuk mengisi lambung telah
terbuka, memberikan kesempatan selama 15 menit bagi para siswa untuk mengisi
bahan bakar penunjang belajar pada jam pelajaran berikutnya. Faris pun segera
melangkah menuju perpustakaan, tidak berniat untuk mengikuti aktivitas sebagian
siswa yang telah ramai mengelilingi penjual sossis lagganan yang akrab mereka
panggil sebagai ‘polo’. Ditengah perjalanan menuju perpustakaan, tiba-tiba
Faris mendengar panggilan yang menyebutkan namanya. Dan ternyata benar, seorang
sahabat yang dikenalnya sejak Masa Orientasi Siswa itu memanggilnya.
“Memang ya, si anak teladan perpustakaan ini, hobinya membaca....saja.” Ledek lelaki bertubuh jangkung itu padanya.
“Memang ya, si anak teladan perpustakaan ini, hobinya membaca....saja.” Ledek lelaki bertubuh jangkung itu padanya.
“Ada apa Rey?” tanya
Faris dengan menghentikan perjalanan.
“ Begini, Kepala
Polres mengundangmu untuk menjadi tamu dalam seminar Pemuda anti narkoba yang
akan dilaksanakan besok lusa, di Aula kabupaten. Bagaimana, kamu bisa?”
beritahu Rayyan yang akrab dipanggil dengan sebutan Rey, lebih keren, ujar
teman-temannya.
Faris terdiam sejenak, berusaha mengingat jadwal mingguannya yang tertulis rapi pada buku kegiatannya.
Faris terdiam sejenak, berusaha mengingat jadwal mingguannya yang tertulis rapi pada buku kegiatannya.
“Aku juga diundang
disana, sebagai tamu dari organisasi Palang Merah Remaja, sedangkan kamu
sebagai perwakilan OSIS.” Tambah Rey kemudian, menjelaskan misinya membujuk
Faris agar tidak berada sendiri didalam seminar bersama anggota Kepolisian itu.
“Baiklah, aku akan hadir. Bilang saja kalau kamu tidak mau sendirian disana, oleh karenya kamu membujukku dengan segitunya, benarkan?” tebak Faris, membuat sahabat dekatnya itu tertawa kecil.
“Kau bisa saja, baiklah aku akui. Hahaha...” gelaknya.
Mereka pun berpisah, Faris melanjutkan perjalanan menuju ruang yang dipenuhi banyak buku tertata rapi bersama meja dan kursi sebagai penambahnya. Langkah Faris terhenti pada kumpulan buku-buku tebal yang berisikan biografi para tokoh. Ia mengambil sebuah buku yang berjudul ‘Si Anak Singkong’. Buku itu mengingatkan peristiwa masa kecil yang pernah ia lewatkan, salah satu peristiwa yang memberinya curahan semangat untuk terus berusaha mendorong diri menjadi seseorang yang bermanfaat.
“Nak, apa cita-citamu?” itulah pertanyaan yang selalu terngiang ditelinganya.
“Baiklah, aku akan hadir. Bilang saja kalau kamu tidak mau sendirian disana, oleh karenya kamu membujukku dengan segitunya, benarkan?” tebak Faris, membuat sahabat dekatnya itu tertawa kecil.
“Kau bisa saja, baiklah aku akui. Hahaha...” gelaknya.
Mereka pun berpisah, Faris melanjutkan perjalanan menuju ruang yang dipenuhi banyak buku tertata rapi bersama meja dan kursi sebagai penambahnya. Langkah Faris terhenti pada kumpulan buku-buku tebal yang berisikan biografi para tokoh. Ia mengambil sebuah buku yang berjudul ‘Si Anak Singkong’. Buku itu mengingatkan peristiwa masa kecil yang pernah ia lewatkan, salah satu peristiwa yang memberinya curahan semangat untuk terus berusaha mendorong diri menjadi seseorang yang bermanfaat.
“Nak, apa cita-citamu?” itulah pertanyaan yang selalu terngiang ditelinganya.
Saat itu, ia terdiam
dan memikirkan apa saja yang diinginkannya. Segala yang memenuhi impian masa
mungilnya.
“Aku ingin menjadi
Presiden Pak!” ujar Faris kecil dengan penuh semangat dan tawa riangnya.
“Nak, kita ini rakyat
miskin, tidak punya banyak uang. Makan saja hanya bertemankan tempe dan tahu,
sedang para calon Presiden itu makannya keju, roti, dan susu setiap hari.” Balas
Bapaknya dengan menepuk pelan bahu Faris kecil.
Peristiwa itu takkan
pernah dilupakannya, karena baginya, sebuah kisah adalah sebuah sejarah yang
tidak akan pernah bisa terlupakan hingga akhir hayat.
Hampir sepuluh menit
lamanya ia membolak-balik buku bersampul coklat itu, membaca dan merenungi
setiap kata yang berbaris rapi membentuk kumpulan kalimat-kalimat yang layak
untuk dijadikan sebagai inspirasi. Dua menit kemudian bel tanda istirahat
berakhir, membuatnya harus segera beranjak dan kembali menuju kelas.
“Faris, bagaimana
dengan tugas matematikamu?” tanya Airin tiba-tiba, berdiri didepan mejanya
dengan memegangi kertas dan pena.
“Sudah.” Jawabnya singkat, sembari mengambil beberapa buku dari dalam tas miliknya.
“Sudah.” Jawabnya singkat, sembari mengambil beberapa buku dari dalam tas miliknya.
“Boleh nyontek nggak?
Please..?” mohon Airin denga wajah yang penuh harap.
Faris mengijinkannya,
berusaha membantu meski ia tahu bahwa cara yang dilakukannya tidaklah tepat.
Tepat pukul 10 pagi,
Faris dan Rey telah menginjakkan kaki di aula Kabupaten. Seorang Polisi
berbadan kekar dan berkumis melangkah menuju mereka, terlihat angkuh dan
menakutkan.
“Kalian dari SMA mana
dik?” tanya Polisi itu dengan ramah, sembari menjabat tangan Faris dan Rey
secara bergantian.
“Saya perwakilan dari
SMK 1 Amuntai Pak, saya adalah perwakilan OSIS.” Ucap Faris memperkenalkan
diri.
“Saya Rayyan Pak,
saya Ketua Palang Merah Remaja se-Kabupaten. Kebetulan kami berada di sekolah
yang sama.”
“Wah wah wah, saya
kagum dengan kalian. Karena tidak banyak remaja yang mau ikut andil dalam
seminar seperti ini. Bahkan dari tiga sekolah yang kami undang sebagai
pembicara, hanya sekolah kalian yang memberikan perwakilan. ” Puji anggota
Polres yang bernama Purwanto itu.
“Terima kasih Pak, kami pun disini masih belajar, berusaha menambah pengetahuan.” Jawab Rey dengan tersenyum sopan.
“Terima kasih Pak, kami pun disini masih belajar, berusaha menambah pengetahuan.” Jawab Rey dengan tersenyum sopan.
Pak Purwanto tertawa
pelan, menepuk punggung kedua anak muda itu secara bergantian.
Seminar pagi itu
dimulai dengan cukup meriah, mendatangkan beberapa pelajar yang didaulat
sebagai tamu. Rey telah menyudahi argumentasinya sebagai ketua Palang Merah
Remaja, menyampaikan beberapa akibat buruk dalam penyalahgunaan narkoba.
“Sebenarnya menjauhi
narkoba itu tidaklah sulit, hanya cukup membentengi diri dengan berbagai
pengetahuan tentangnya, bukan malah menutup diri dan tidak mau tahu dengan
jenis dan macam narkoba. Ada beberapa cara yang dapat dijadikan sebagai banteng
untuk diri sendiri. Pertama, dengan meyakini sebenar-benarnya bahwa narkoba dan
jenisnya adalah sesuatu yang dilarang agama, yang mana jika dilakukan akan
mendapat dosa. Kedua, membekali diri dengan keyakinan bahwa kita adalah pelajar
yang mesti menempuh jalan panjang dalam menuju kesuksesan. Ketiga, dengan
membekali diri tentang banyak pengetahuan akan bahaya narkoba dalam
penyalahgunaannya. Mengenal dan mengetahui seperti apa rupa dari narkoba.
Karena bisa jadi kita akan tertipu dengan tampilan atau hal-hal yang berkaitan
dengannya.” Jelas Faris yang kemudian mengakhiri pendapatnya dengan salam
penutup.
Pak Purwanto terpukau dengan argumentasi dua remaja itu, ia memberikan pin yang menyatakan bahwa mereka merupakan duta anti narkoba. Menyematkannya pada seragam Faris dan Rey yang tersenyum senang, kemudian menjabat tangan keduanya secara bergantian.
Faris merasakan tubuhnya begitu lelah, kedua kakinya pun pegal akibat terlalu lama berdiri memberikan pengarahan pada anggota ekstrakurikuler Paskibraka yang diketuai olehnya.
Pak Purwanto terpukau dengan argumentasi dua remaja itu, ia memberikan pin yang menyatakan bahwa mereka merupakan duta anti narkoba. Menyematkannya pada seragam Faris dan Rey yang tersenyum senang, kemudian menjabat tangan keduanya secara bergantian.
Faris merasakan tubuhnya begitu lelah, kedua kakinya pun pegal akibat terlalu lama berdiri memberikan pengarahan pada anggota ekstrakurikuler Paskibraka yang diketuai olehnya.
“Kak Faris dipanggil
Ibu.” Beritahu adik bungsungnya.
“Ada apa Bu?” tanyanya dengan menghampiri wanita yang duduk dibibir dipan.
“Ada apa Bu?” tanyanya dengan menghampiri wanita yang duduk dibibir dipan.
“Ibu lihat, nilai
sekolahmu menurun. Ada apa Ris, kamu ada masalah?” tutur Ibunya dengan lemah
lembut.
Faris terdiam, namun
kata hatinya membenarkan perkataan Ibunya.
“Ris, sebentar lagi kamu itu kelas dua belas nak. Ibu dan Bapakmu ini hanya seorang petani, SMP pun tidak selesai, kami hanya bisa mengharapkanmu.” Pesan Ibunya kemudian.
“Ris, sebentar lagi kamu itu kelas dua belas nak. Ibu dan Bapakmu ini hanya seorang petani, SMP pun tidak selesai, kami hanya bisa mengharapkanmu.” Pesan Ibunya kemudian.
“Kan sudah Bapak
bilang Ris, kurangi kegiatanmu diluar sekolah. Kamu itu pelajar, bukannya orang
biasa yang bisa dengan bebas berkeliaran dari sekolah. Kesana kemari hanya
untuk mengikuti pelatihan, seminar, dan kegiatan lainnya. Ingat nak, kamu itu
laki-laki, akan menjadi pemimpin dalam keluarga nantinya. Seorang pemimpin itu
mesti berpendidikan, karena dijaman sekarang semuanya memerlukan uang.
Bagaimana bisa kamu bekerja jika keahlian saja kamu tidak punya.” Tambah
Bapaknya yang turut memasuki pembicaraan.
“Iya Pak, Bu, Faris
akan berusaha memperbaiki nilai-nilai Faris di sekolah. Insya Allah Faris akan
lebih giat belajar dan membagi waktu agar sekolah dan kegiatan Faris menjadi
seimbang.” Jawab Faris sekenanya, usai merenungkan kalimat-kalimat nasihat oleh
kedua orang tuanya.
Faris merasakan jantungnya berdetak tak karuan saat Ibu Wali kelas memintanya ke ruang guru. Ia mulai berprasangka kesana kemari, hingga akhirnya ia mengetahui bahwa Ibu Wali kelas hendak menegurnya.
“Faris, guru-guru mengatakan bahwa nilai-nilaimu banyak yang menurun, dan aktivitasmu diluar sekolah tidak sedikit. Apa benar demikian?” tanya Bu Helmi, berusaha mengintrogasinya.
Faris merasakan jantungnya berdetak tak karuan saat Ibu Wali kelas memintanya ke ruang guru. Ia mulai berprasangka kesana kemari, hingga akhirnya ia mengetahui bahwa Ibu Wali kelas hendak menegurnya.
“Faris, guru-guru mengatakan bahwa nilai-nilaimu banyak yang menurun, dan aktivitasmu diluar sekolah tidak sedikit. Apa benar demikian?” tanya Bu Helmi, berusaha mengintrogasinya.
“Benar Bu.” Sahut
Faris pelan.
“Faris, kamu itu
pelajar, kewajibanmu berada di sekolah, memperbanyak belajar. Bukannya malah
sibuk dengan kegiatan-kegiatan organisasi diluar sana. Bukannya Ibu melarangmu
untuk aktif di beberapa organisasi, tapi Ibu memintamu untuk bisa membagi waktu
antara belajar dan berorganisasi. Ingat Ris, kamu ini siswa akutansi, tidak
semudah apa yang kamu pikirkan.” Nasihat Bu Helmi dengan nada tegas.
“Baik Bu, Insya Allah saya akan lebih tepat lagi dalam membagi waktu.”Jawab Faris kemudian.
“Baik Bu, Insya Allah saya akan lebih tepat lagi dalam membagi waktu.”Jawab Faris kemudian.
“Baik, Ibu pegang
kata-katamu. Silahkan kembali ke kelas.”
“Baik Bu, saya
permisi. Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikumsalam.”
Faris merasakan dadanya sesak, lingkungannya seakan tidak menerima atas segala kegiatan yang dilakukannya. Perlahan-lahan, ia merasakan satu hatinya teriris dua. Yang dimana belahan pertama menampilkan perasaan yang akan membunuh impian masa kecil yang hendak di wujudkannya. Sedang belahan kedua menampilkan semangat untuk terus berusaha dan membuktikan bahwa dirinya dapat meraih apa yang di inginkannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan diterima.
‘Farah’
Itulah nama kontak yang mengiriminya pesan singkat, gadis yang pernah mementingkan Faris dihatinya. Gadis yang dahulu dengan percaya diri menyatakan cinta kepadanya, gadis yang pernah membuatnya jengkel karena tingkahnya dalam menyembunyikan seragam putihnya dilemari kelas yang ternyata penuh debu, gadis yang kini berada jauh darinya. Perlahan, dengan terampil jari-jari Faris mengetik beberapa tombol yang berfungsi untuk mengantarkannya kepada pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.
“Terkadang, sebuah impian itu membutuhkan banyak ujian untuk meluluskan diri dalam menggapainya. Tak jarang, kita akan mendapatkan cemoohan atau bahkan hinaan dalam menjalani segala proses menuju kesuksesan. Ayo berdiri tegap kembali, tancapkan kakimu dengan kokoh diatas tanah, tersenyum dan luruskan kembali niatmu. Percayalah, Allah ada untuk hamba-hambaNya yang mau berusaha.”
Faris merasakan dadanya sesak, lingkungannya seakan tidak menerima atas segala kegiatan yang dilakukannya. Perlahan-lahan, ia merasakan satu hatinya teriris dua. Yang dimana belahan pertama menampilkan perasaan yang akan membunuh impian masa kecil yang hendak di wujudkannya. Sedang belahan kedua menampilkan semangat untuk terus berusaha dan membuktikan bahwa dirinya dapat meraih apa yang di inginkannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan diterima.
‘Farah’
Itulah nama kontak yang mengiriminya pesan singkat, gadis yang pernah mementingkan Faris dihatinya. Gadis yang dahulu dengan percaya diri menyatakan cinta kepadanya, gadis yang pernah membuatnya jengkel karena tingkahnya dalam menyembunyikan seragam putihnya dilemari kelas yang ternyata penuh debu, gadis yang kini berada jauh darinya. Perlahan, dengan terampil jari-jari Faris mengetik beberapa tombol yang berfungsi untuk mengantarkannya kepada pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.
“Terkadang, sebuah impian itu membutuhkan banyak ujian untuk meluluskan diri dalam menggapainya. Tak jarang, kita akan mendapatkan cemoohan atau bahkan hinaan dalam menjalani segala proses menuju kesuksesan. Ayo berdiri tegap kembali, tancapkan kakimu dengan kokoh diatas tanah, tersenyum dan luruskan kembali niatmu. Percayalah, Allah ada untuk hamba-hambaNya yang mau berusaha.”
Faris tersenyum usai
membaca kata mutiara itu, kata-kata yang perlahan-lahan membangkitkan semangat
juangnya yang hampir pudar.
“Ya, janji Allah itu benar adanya. Ia Maha Pemberi yang Bijaksana, Ia Maha mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tersenyumlah, karena hadirmu telah mampu membangkitkan kepercayaan itu.” balas Faris dengan perasaan bahagia.
“Ya, janji Allah itu benar adanya. Ia Maha Pemberi yang Bijaksana, Ia Maha mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tersenyumlah, karena hadirmu telah mampu membangkitkan kepercayaan itu.” balas Faris dengan perasaan bahagia.
Faris berjanjin
kepada diri sendiri. Untuk kembali berdiri tegap dan memandang ke depan. Tidak
akan menyerah atas segara gelombang yang mencoba meruntuhkan karangnya. Faris
berjanji, akan menjadi yang berprestasi seperti yang ia ingini.
Faris merasakan sesuatu yang sangat berharga itu telah tiba, perasaannya yang semula bahagia, kini bercampur padu dengan detak jantung yang memompa darah lebih cepat. Bagaimana tidak, saat itu kakinya telah berdiri didepan Istana Bogor yang tidak lain adalah istana Presiden dan Wakil Presiden. Ya, ia menjadi salah satu perwakilan dari Banjarmasin untuk mewawancarai Presiden dan Wakil Presiden. Rasa gugup itu semakin memuncak saat dua bola matanya mendapati Presiden Susillo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono telah menyambut kedatangannya bersama para perwakilan dari 34 Provinsi se-Indonesia. Faris tersenyum bangga, namun bukanlah sebuah senyum kesombongan ataupun keangkuhan. Melainkan sebuah senyum yang menghantarkan semangat juangnya menuju jalan kesuksesan, karena sebentar lagi dirinya akan mendapatkan tips-tips bermutu dari sang ahli. Ia tidak menyesal, takkan menyesal karena rasa lelahnya dalam membuat video-video tentang Indonesia, tak menyesal dengan esai-esai yang telah dibuatnya selama berjam-jam. Faris bahagia, sangat bahagia, jalan itu didepan matanya.
Catatan :
Ditulis oleh : Hanida Ulfah (Dinda Pelangi)
Diambil dari Kutipan
nyata perjalanan Faris Adi Pratama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar