“ Membangun Pagar Bangsa Bersama Bidikmisi“
Ini
kisahku, semoga kalian bisa memetik hikmah dibalik kisah ini dan
bermanfaat untuk kehidupan anda. Amin....
Ditulis oleh : Hariyadi
NIM : 022106472
Mahasiswa FISIP Jurusan Ilmu
Administrasi Bisnis
Universitas Terbuka
Banjarmasin 2014
****
Tidak
banyak yang dapat ku kisahkan, hanya saja semua berawal dari mimpiku. Kutulis
satu persatu mimpiku dalam selembar kertas. Kusimpan kertas itu dalam buku yang
sungguh rahasia. Hanya aku dan buku itulah yang tahu. Satu demi satu targetku
tercoret dan menandakan targetku sudahlah tercapai.
Sebelum jauh bercerita, aku akan memperkenalkan diriku pada kalian yang sempat memalingkan wajah menyimak untaian kata yang tergores dalam lembaran putih ini, nama lengkapku Hariyadi, orang-orang biasa menyapaku dengan panggilan Hari.
Aku lahir dua puluh tahun yang lalu
tepatnya pada tanggal 11 Juni 1995 di sebuah perkampungan kecil di ujung
pelosok desa yang penuh dengan persawahan yang di kelilingi pohon-pohon kecil
di Desa Pamitai, sebuah desa kecil yang ada di Kabupaten Kapuas, Kalimantan
Tengah. Aku lahir dari sebuah keluarga kecil dan sederhana, ya, aku dilahirkan
dalam kesederhanaan dan juga dibesarkan dalam keserderhanaan, namun dari
kesederhanaan itu aku belajar untuk hidup. Ayah dan ibuku bekerja sebagai
seorang petani yang dalam kesehariannya mereka menghabiskan waktunya bergumul
dengan kebun dan sawah, namun aku bangga memiliki mereka. Mereka adalah
orang-orang hebat yang kumiliki, mereka adalah pahlawan hidupku yang telah
menghabiskan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk memberi sesuap kebahagiaan
pada kami anak-anaknya. Hobbiku adalah bermimpi dan berpetualang dengan alam
bebas, namun pemimpi yang tidak hanya sekedar bermimpi tetapi menjadikan
mimpinya sebagai motivator untuk meraih kesuksesan.
Aku
menghabiskan masa kecilku bercengkrama dengan alam bebas dalam suasana layaknya
anak kampung dan mulai menginjakkan kaki di dunia pendidikan pada tahun 2001 di
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pamitai 1 Sei. Tatas, Kabupaten Kapuas. Kondisi
sekolah itu pun jauh dari kata layak pakai. Namun, semua tidak membuat saya dan
teman-teman untuk menoloknya karena itulah adanya kondisi selanjutnya yang
tidak kalah memprihatikan adalah tahun 2007. Setelah tamat jenjang sekolah
dasar, aku tidak melanjutkan pendidikan karena Kondisi kehidupan orang tuaku
yang tidak memungkinkan, bisa dibayangkan untuk makan sehari–hari saja susah
apalagi harus mengekolahkan aku. Hatiku perih ketika mereka tidak bisa
melanjutkan aku sekolah, tetapi aku harus kuat mungkin Tuhan ingin memberikan
aku jalan lain.
Hari
terus berjalan setahun kehidupan ku jalani, membantu Ibu dan Ayah di sawah.
Setiap hari keringatku bercucuran di bawah panasnya terik matahari. Akhir Mei
2008 salah satu sekolah pengumumkan akan menerima siswa baru dengan biaya
gratis. Mendengar hal itu aku kemudian meminta ijin kepada kedua orang tuaku
untuk melanjutkan sekolah. Awalnya mereka menolak karena meskipun sekolah
gratis tetapi untuk mencukupi biaya sehari – hari untuk sekolah bagaimana?
Tentunya tidak semua gratis, bagaimana makan, tempat tinggal, dan sebagainya ?
akupun mencoba meyakinkan hati orantuaku. Bahwa akupun bisa bertahan untuk
keadaan itu demi masa depan yang lebih baik.
Akhirnya
orang tuaku mengijinkan aku pergi sekolah. Di mana sekolah tempat menuntut ilmu
itu sangatlah jauh dari rumah kedua orang tuanku, memperlukan waktu satu hari
dengan naik transportasi laut atau sekitar 250 Km. aku meninggalkan kampung
halamanku untuk mengejar mimpi-mimpiku. di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)
Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara Ibu Kota Amuntai, aku mulai
bersekolah dari 2007 sampai 2011. Pada akhir kelulusan di MTsN aku berhasil
meraih Juara 2 nilai tertinggi Ujian Sekolah dan prestasi yang membanggakan,
yang sempat membuatku kaget serta menangis dimana terpilihnya aku sebagai Siswa
Teladan Perpustakaan Kabupaten Hulu Sungai Utara 2011 oleh Bapak Bupati Hulu
Sungai Utara.
Aku
melanjutkan sekolahku di salah satu sekolah unggulan sekaligus favorit di kota
Amuntai tepatnya di SMK N 1 Amuntai jurusan Akuntansi. Selama tiga tahun aku
menghabiskan waktuku untuk membedah setiap ilmu pengetahuan yang kudapatkan
sebagai ukiran abadi dalam merangkai masa depan. Dan alhamdulillah pada tahun
2014, aku menyelesaikan studiku di bangku sekolah.
Mimpi
terbesarku setelah lulus SMK adalah kuliah dengan beasiswa. Aku ingin
meringankan beban orang tuaku. Sudah lumayan besar beban mereka untuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari. “ Jika ditambah dengan membiayai kuliahku
sungguh tak mungkin bisa “ pikiranku . Memang begitu adanya. Bapakku adalah
seorang petani. Tak tentu penghasilannya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya
ekonomi keluargaku. Ya begitulah adanya, dengan penghasilan yang tak menentu
harus bisa mengelolanya dengan baik . Alhamdulillah orang tuaku adalah orang
yang pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Mereka tidak pernah
mencela, yang terpenting adalah masih bisa membiayai sekolahku dan adekku
serta cukup untuk makan. Itulah motivasi terbesarku kenapa aku ingin kuliah
dengan beasiswa. Aku sangat mengetahui bagaimana kondisi keuangan
keluargaku yang sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahku.
Semangat untuk belajar menjadi peganganku untuk meraih mimpi.
Lima
tahun yang lalu, aku begitu ingat mimpiku semasa MTs adalah Meningkatkan peringkat
paralel tiap semester. Aku harus katakan “ BISA “ untuk mimpiku ini. sudah
buktikan hal itu.
Alhamdulillah, mimpi itu tercapai
hingga akupun lulus dari MTs. Dari semester 1-6 peringkatku selalu meningkat
dari Peringkat 12 sampai Juara 2. Tiap kali penerimaan rapot aku selalu berdoa
agar mimpiku tercapai. Jujur, walaupun aku dinilai sedikit memiliki kemampuan
dari pada teman-temankuku yang lain , tetapi aku bukanlah seperti mereka yang
selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelajar. Insyaalloh, aku apa adanya,
aku bisa ya aku jawab , jika teman bertanya dan aku bisa ya aku jawab.
Selama
MTs sampai Aku SMK ada satu guru yang bener-bener membuatku semangat dan
menenangkan pikiranku. Beliau guru Ilmu Pengetahuan Alam. Siti Hapijah,S.Pd.
namanya. Beliau bilang ”Be Your Self “
(jadilah menjadi dirimu sendiri) dengan mencapai prestasi terbaik kamu punya
kesempatan memperbaiki kehidupan orang –orang yang kamu sayangi ! Nah, dari
sinilah aku berpikir, “ bahwa jika aku bisa memperbaiki diriku, tidak akan
mustahil aku bisa memperbaiki keluargaku, lingkunganku bahkan negeriku,.”
Artinya tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau mencoba.
Aku
tidak pernah berpikir akan melanjutkan ke perguruan tinggi karena kondisi
ekonimi keluargaku yang sangat tidak memungkinkan aku belajar di bangku kuliah.
Tak jarang teman-temankuku bertanya” har, kamu mau kuliah di mana?”. Kalau
ditanya seperti itu, aku hanya menjawabnya dengan senyuman dan biarkan takdir
hidupku yang menjawab dan nantikan jawabannya setelah lulus”.
Mulutku
bisa berkata seperti itu, namun sungguh batinku tersiksa ” aku ingin kuliah,
aku ingin kuliah kawan, seperti kalian ”.
Banyak
sekali mahasiswa yang mengunjungi sekolahanku untuk bersosialisasi
perguruan tinggi mereka. Mereka sangat antusias memperkenalkan universitas
mereka. Mulai dari prestasinya, beasiswanya, fasilitasnya, dll. Namun, aku
hanya bisa terdiam dan mendengarkan celotehan mereka. Aku bingung. Aku pengin
banget kuliah seperti mereka. Aku hanya bisa berharap semoga aku bisa seperti
mereka kelak dan aku menggantikan posisi mereka di depan . “ Bisa gak yaa, aku
seperti mereka kelak ? “ pikiranku sambil berhayal. Dari sekian banyak jurusan
yang diperkenalkan , aku hanya tertarik pada satu jurusan, yaitu Ilmu
Administasi. Tak ada yang lain yang mampu menggantikannya. Aku hanya ingin
kuliah di jurusan ini. Keinginanku sungguh besar.
Pada suatu ketika, wali kelasku
membawa sebuah kabar gembira tentang adanya beasiswa sampai lulus. Rasa tak
percaya pun mengelilingi kepalaku. “Beasiwa Bidik Misi” namanya. Sungguh aku
baru mendengar beasiswa itu, dalam benakku bertanya tanya beasiswa apaan
itu? Bagaimana cara mendapatkannya? Apakah aku bisa?.
Pokoknya aku bingung apa yang harus
aku katakan, yang jelas “ aku pengin dapet beasiswa itu entah bagaimana caranya
yang penting bisa kuliah tanpa memberatkan orang tua.
Banyak
temanku yang mengojokk-ngojokiku untuk mendaftar beasiswa itu. Mereka
sangat mengerti keadaanku. Akupun menyampaikan kabar ini ke orang tuaku.
Mereka hanya berkata” Terserah kamu, kita sebagai orang tua hanya bisa
mendoakan kamu yang penting kamu selalu patuh kepada yang kuasa dan selalu
menghormati bapak ibumu.” Mendengar tanggapan mereka , aku semakin
bingung, bagaimana aku harus melangkah , apakah terus atau mundur. Mereka tak
memberikan pendapatnya tentang beasiswa ini. Maklumlah , mereka adalah
orang biasa tak sekritis para pejabat pemerintah. Aku sadar itu. Alhamdulillah,
aku mendapat ilham kalau aku harus daftar beasiswa itu. Kubulatkan tekadku dan
kutanamkan rasa percaya diri bahwa aku bisa.
Aku bangkit, kutulis sebuah target
dalam sebuah kertas, “ aku ingin kuliah dengan beasiswa” . Target itu masih
begitu teringat di pikiranku, aku ingin itu bener-bener terwujud. Akhirnya
akupun menyiapkan semua yang diperlukan dalam pendaftaran. Bapak, ibu dan
semuanya pun ikut berperan. Alhamdulillah semua mendukung keinginanku. Perlahan
tapi pasti. Ke sana sini. Dan berharap mimpiku kali ini menjadi nyata.
Pendaftaran
pun tiba. Kedua orang tuaku tidak punya uang bahkan untuk sekedar membayar
pendaftaran. Untungnya, kabar gembira datang lagi. Ada sebuah pengumuman di
jendela kelasku . Begini bunyinya , “ Bagi siswa yang mendaftar beasiswa
bidik misi, tidak diwajibkan membayar uang pendaftaran” sungguh aku
bahagia. Terimakasih yaa Allah, kau berikan jalan untuk hamba-Mu ini. Akupun
langsung daftar dan memilih perguruan tinggi mana yang akan aku masuki.
Ternyata hanya Universitas Terbuka yang ada di otakku. Dan jurusannya Ilmu
Administrasi itu pilihanku. Dengan alasan agar aku bisa sambil bekerja membantu
kedua orang tuaku.
Berserah
diri, mohon anugerah dari yang kuasa, dan mohon dibukakan pintu menuju sukses
untuk agama, bangsa dan negara ini adalah doaku. Sepanjang siang dan malam, aku
brdoa agar diberikan kemudahan dalam menghadapi masalah ini. Semoga lolos.
Amin..
Dua
bulan pun berlalu, ujian nasional sudah berakhir, tinggal memetik hasilnya.
Kunanti semua itu dengan terus bertawakal kepada sang kuasa. Tak terasaa waktu
begitu cepatnya.Tanggal 20 mei 2014, pengumuman ujian nasional. Hatiku degdegan
tak karuan. Jujur yang aku takutkan adalah mampu mempertahankan predikat
lulusan terbaik atau tidak. Pengumuman kelulusan begitu membingungkan, kabar
burung kian membahana. Ada yang ngomong jam ini, jam ini dan jam ini. Ternyata
yang bener jam 16.00 WIB. Sungguh hatiku gelisah tak menentu, apakah hasil dari
semua usahaku? Apakah akan menjadi buah yang manis atau buah yang pahit.
Sekian
lama, kunanti sang ayah . Dengan menaiki sepeda ku , ayah pergi ke sekolahan
mengambil hasil ujian. Sungguh kasihan melihat bapakku.
Mengharukan ! Aku melihat ayah untuk
mengangis yang pertama kalinya ketika ia membuka hasil ijuanku. Akupun ikut
nangis. Pelan-pelan kubuka amplop itu.Ternyata “lulus dengan hasil memuaskan.
Terimakasih yaa Allah, Engkau kabulkan permintaanku.
Kini
tinggal menanti pengumunman hasil seleksi di Universitas Terbuka. Gak disangka,
pengumuman dimajukan, Awalnya aku gak tau, namun sahabatku memberi informasi. Tak
lama kemudian, diapun telpon kalo aku dinyatakan “ DITERIMA di Universitas Terbuka
(UT) Banjarmasin jurusan Ilmu Administrasi Bisnis”. Seperti mimpi , mimpiku
benar-benar menjadi nyata. Aku gak percaya, aku diterima. Namun, temenku tetap
ngotot kalo aku bener diterima.
Alhamdulillah,
terima kasih yaa Allah. Aku diterima dengan jurusan yang sangat aku pengin
masuki. Tanpa pikir panjang, akupun ngomong sama ibu bapakku. Namun, apa yang
terjadii?
Bapakku seraya sedih dengan kabar
baik ini.kondisi ekonomi keluargaku yang sangat tidak mendukung. Aku tahu itu.
Aku sadar, aku terlahir dari keluarga tak mampu, buat menyekolahkan aku saja
susahnya minta ampun apalagi buat kuliah. Sejenak semangatku drop. Tinggal
menunggu satu pengumuman lagi. “ Pengumuman Beasiswa Bidik misi”.
Satu-satunya hal yang paling aku dambakan . Aku ingin kuliah seperti mereka,
menjadi pendidik yang profesional bukan hanya mengedepankan pangkat, namun
prestasi mengajar yang cemerlang. Aku ingin ituuu...
Kuceritakan
semua pada bapakku. Tentang beasiswa itu. Masa depanku ada pada beasiswa
itu. “ Bapak, tolong bantuin doa yaa, semoga pengajuan beasiswaku diterima,
amiin..” Bapak pun mengamininyaa...
Sebelum
pengumuman, terlebih rumahku disurvey. Dari depan sampai belakang semuanya
difoto. Rasa maluku sejenak hilang, intinya yang penting beasiswaku diterima.”
Inilah aku dan rumah keluargaku” adanya kaya gini. Pihak yang menyurvei pun
saling bercanda tawa dengan keluargaku, mereka bahagia berbincang-bincang
dengan orang tuaku. Terlihat dari raut mukanya yang begitu ceria.
Pengumuman
penerimaan beasiswa tak kunjung datang. Akupun bingung karena sebentar lagi
sudah masuk masa orientasi. Nah, dua bulan setelah pengumuman beasiswapun
diumumkan. Alhamdulillah “ Diterima” . Mungkin hal ini biasa saja bagi
mereka, namun bagiku hal ini adalah moment yang paling luar biasa yang bisa aku
capai dan bisa menjadi kenangan untuk diceritakan kepada anak cucuku kelak.
Sujud syukur pun kupanjatkan pada Allah. Aku pengin nangis. Tatanggakupun ikut
menangis bahagia karena moment ini. Banyak air mata berjatuhan.
Kini, aku benar-benar merasa bangga dengan diriku sendiri. Entah harus dengan
cara apa lagi , aku mengucapkan syukur pada yang kuasa. Allah telah mengabulkan
pintaku ini.Aku berjanji pada diriku sendiri aku harus lebih baik lagi
dan menjadi insan yang berbakti pada agama, negeri dan bangsaku.
Terimakasih beasiswaku, bidik misiku. Kau telah mengantarkanku menggapai
mimpiku menjadi mahasiswa UT.
Aku bangga menjadi mahasiswa
Universitas Terbuka Banjarmasin
Aku bangga menjadi mahasiswa bidik
misi
Aku bangga menjadi mahasiswa Ilmu
Administrasi Bisnis, yang katanya jurusan paling bergengsi di Kota Banjarmasin.
Alhamdulillah , aku bisa belajar di universitas negeri yang ada di tanah air
ini.
Dengan
semangat , usaha, doa, dan tawakal , semua mimpi bisa terwujud jika yang di
atas menghendakinya. Kadang mimpi itu seperti khayalan semu, namun hidup
tak akan indah tanpa adanya mimpi. Betul..
Tak
ada salahnya kita bermimpi asalkan mimpi itu sesuai dengan kemampuan kita. “ Bermimpilah selagi kita masih bisa
bermimpi. Ingatlah, di dunia ini tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan segala
kemungkinan itu akan terjadi.
Nothing is
impossible and possible can happen .
“Tulisan ini
dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka
memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31.”

