Rabu, 15 April 2015

Bangkitkan Kembali Maritim yang Hilang Untuk Kejayaan Bumi Pertiwi


Indonesia merupakan negera dengan potensi ekonomi maritim yang sangat besar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 km2 yang terdiri dari wilayah dari wilayah territorial sebesar 3,2 juta km2 dan wilayah Zone Ekonomi Eskslusif Indonesia 2,7 juta km2. Selain itu terdapat 17.840 pulau di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 95.181 km. Letaknyapun diapit oleh dua samudera besar yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta berada di daerah khatulistiwa telah menjadi Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan Sumber Daya Alam (SDM) dengan keanekaragaman-hayati yang luar biasa sehingga tidak salah jika Indonesia di masukan dalam kelompok negara mega-biodiversity.

Data ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki luas laut lebih banyak dari pada daratan. Dengan cakupan wilayah laut Indonesia yang sangat luas ini, tentunya laut Indonesia menyimpan banyak potensi laut yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat khususnya pesisir. Wilayah ini tentunya memiliki beragam SDM laut yang berpotensial dan memberikan hasil yang luar biasa. Sumber daya yang dapat diperbarui seperti ikan – ikan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan lain sebagainya. Di samping itu ada juga sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti minyak, gas bumi barang tambang, serta mineral.

Definisi maritim sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal yang berkenaan dengan laut, pelayaran, dan berdegangan laut. Sedangkan definisi dari negara maritim adalah nagara yang mempunyai sifat memanfaatkan laut untuk kejayaan negara. Lalu pertanyaan sekarang adalah sudahkan potensi laut digunakan secara maksimal ? jawabnya tentu belum. karena potensi laut yang sangat besar ini, belum dikelola dengan maksimal mungkin. Dari data statistik Kementerian Kalautan dan Perikanan pemamfaatan laut Indonesia baru mencapai 48% dari 6,7 juta potensi laut Indonesia keseluruhan. Artinya potensi yang ada belum dimaksimalkan sepenuhnya oleh pihak – pihak berwenang. Sementera kita tahu bahwa kesadaran untuk mengelola laut telah tertuang dalam UUD 1945 pasal 22 ayat 3 yang menyebutkan bahwa “Bumi, air, termasuk kekayaan yang terkadung di dalamnya dikuasi oleh negara dan dipergunakan untuk sebasar -besar kemakmuran rakyat”. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesadaran dalam mengelola laut perlu ditingkatkan secara strategis.

Tidak ada yang menyangka ketika historis berbicara bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Hal tersebut terungkap dari kejayaan maritim Nusantara pada masa lalu. Nenek moyang bangsa Indonesia telah memahami dan menghayati kegunaan laut sebagai sarana kehidupan baik untuk perdagangan maupun jalur komunikasi. Bukti unggulan bahari bangsa Indonesia ini tersebar di berbagai penjuru nusantara bahkan hingga Madagaskar. Berbicara tentang kejayaan maritim masa silam tentunya kita tak kalah berpotensi besar dalam global, sebut saja pada peristiwa perdagangan dan transportasi laut sungguh nagara kita termasuk spektakuler. Hal ini dapat kita lihat pada abad ke-15 berjamurnya pelabuhan kerajaan maritim yang dikenal dengan sebutan Bandar. Di berbagai daerah seperti Pasai di Acah, Cirebon, Tubun, Gresik, Demak, Makasar, Buton bahkan sampai ke Ternate, Tidore, Jaylolo, dan Bacan. Hanya Bandar termaju pada zaman tersbutlah yang menjadi lintas perdagangan rempah – rempah ari pulau Maluku menuju India melalui Selat Malaka dan kemudian menyeber ke Timur Tengah Eropa.

Saat itu Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Ternate dan Tedore pun pernah mencapai kejaayan dengan armada yang sangat tangguh. kisah maritim Nusantara pada masa lalu tersubut telah diabadikan dalam sebuah lagu yang tak asing lagi bagi kita,

“ Nenek moyangku seorang pelaut,
 Gemar mengarus luas samudra,
Menerjang ombak tiada takut,
Menempu badai sudah biasa………”

Namun kejayaan maritim ini secara berangsur menyusut. Keruntuhan bangsa bahari ini dimulai setelah masuknya VOC ke Indonesia pada tahun 1602 – 1755 M. Salah satu peristiwa bersejarah yaitu adanya perjanjian Giyati (1755) yang dilakukan Belanda denga Raja Sukarta dan Yogyakarta dimana kedua kerajaan itu menyerahkan hasil rempah – rempah kepada Belanda. Kondisi ini yang membuat lambat – laun menghilangkan jiwa bahari bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia kini merindukan datangnya kejayaan maritim Nusantara. Pada tanggal 13 Desember 1957 di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia melakukan Dideklarasi Wawasan Nusantara yang lebih dikenal dengan Deklarasi Djoeanda yang memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat. Deklarasi itu tentunya merupakan tidakan sepihak yang sangat patriotik sehingga dijadikan sebagai titik awal kebangkitan kembali Indonesia sebagai negara Maritim. Lalu momentum kebangkitan tersebyt kembali bergulir pada tahun 1998 dibawah kepempimpinan Presiden b.J. Habibie dengan nama Deklarasi Bunaken hal ini tentunya semakin menegaskan bahwa laut merupakan peluang, tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan, kesatuan, dan pembangunan bangsa Indonesia. Sampai sekarang Indonesia masih berjuang menuju kejayaan maritim. Namun ironisnya paradigma pembangunan sampai di Indonesia masih sering kali mengabaikan laut sebagai prioritas utama pembangunan, padahal laut Indonesia memiliki potensi dan fungsi yang vital. Hal ini tentu dapat dilihat dari masih rendahnya partisipasi pemuda untuk mencintai laut, untuk itu sebagai negara maritim potensi kelautan di Indonesia harus dimanfaatkan dan dikelola secara optimal untuk memajuan bangsa.

Lalu kita kembali berbicara tentang potensi kekayaan laut Indonesia, Salah satu kekayaan laut yang berpotensi menunjang perekonomian Indonesia adalah perikanan. Namun sebagai bangsa dengan kawasan laut mendominasi wilayah negeri ini, produksi perikanan kita masih jauh dari harapan, dilihat dari data GDP Indonesia (2007) terhitung sekitar Rp. 547 triliun berasal dari pertanian, perikanan, hasil hutan, dan peternakan. Namun hanya Rp. 96 triliun berasal dari perinankan (2,4%). Pada tahun 2010 Indonesia sudah mampu memproduksi sekitar 10 juta ton ikan per tahun. Sementara target Indonesia pada tahun 2015 menjadi produsen ikan terbesar di dunia melampaui China saat ini sudah mencapai 45 juta hingga 50 juta pertahun denga produk yang relatif sama dengan Indonesia.

Untuk mengelola potensi dengan optimal dan efektif perlu regulasi yang sifatnya khusus bagi daerah berbasis laut. Selain itu pemerintah harus memberikan perhatian penuh pada pembagunan infrastruktur yang dapat mendukung pertumbuhan sektor industri kelautan serta modernisasi pada tekhnologi kelautan. Secara geogfafis letak Indonesia yang begitu strategis pada jalur pelayaran dapat menjadi potensi tersendiri dalam peningkatan ekonomi. Penelitian Martin Stopford (2003) menerangkan bahwa 46% GNP dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap aspek kelautan. Sedangkan Indonesia memiliki 4 dari 23 perlintasan laut stategis yang ada di dunia. Terhitung sekitar 80% lalu lintas perdagangan laut melintasi kawasan perairan Indonesia. Namun isu perompokan yang sering terjadi di Selat Malaka memberikan dampak yang merugikan bagi Indonesia. Pelayanan Internasional akan mengenakan berbagai biaya tambahan kepada pemilik barang yang akan mengimpor atau mengeskspor ke Indonesia dengan alasan perairan Indonesia merupakan daerah rawan. Dengan biaya tambahan yang diberlakukan tadi jelas barang yang akan dijual atau dari Indonesia akan lebih mahal di banding harga di negara lain. Oleh karena itu, perlu di terapkan sistem pertahanan dan keamanan yang baik agar Indonesia dapat menjadi kompetitif secara ekonomis.

Sistem pertahanan dan keamanan yang lemah pun berdampak pada hasil laut dan kedaulatan Indonesia. Bayangkan saja negara mengalami kerugian lebih dari Rp. 30 trilyun pertahun akibat menjadi objek penjerahan nelayan asing seperti : Thailand, Cina, Vietnam, dan Korea. Satu demi satu nusa kita pun dipetik, sipadan, ligitan dan Ambalat telah hilang dari pangkuan ibu Pertiwi. Untuk itu perlu dibutuhkan armada laut yang kuat untuk menjaga hasil kekayaan laut dan kedaulatan wilayah Indonesia. Namun tantangannya adalah masih minimnya dana untuk pertahanan di Indonesia yang berdampak pada kualitas militar kita. Memang pada tahun 2010 ini anggaran pertahanan naik 20% menjadi 40,6 triliun. Namun tetap saya semua belum cukup untuk memenuhi kekuatan minimal militer kita. Dimana militer kita membutuhkan dana sekitar 100 – 120 triliun. Sebuah pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk memeprkuat sistem pertahanan dan keamanan khususnya di perairan Indonesia.

Selain dari ekomomi dan kewilayahan, laut pun memegang peranan penting secara ekologis salah satu fungsi laut adalah menyerap CO2 di atmosfer untuk meminimalisir efek global warming. Kuatitas lau pun menentukan hasil kekayaan hewani dan nabati yang ada didalamnya. Namun tentangannya yang harus dihadapiadalah pencemaran. Salah satu kasus yang baru terjadi, Indonesia mengalami kerugian Rp. 510 miliar akibat pencemaran Laut Timor setelah tedakan ladang minyak Montara di Australia. Tidak kalah pula, pencemaran yang dihasilkan 15 kapal barang terbesar di dunia saat ini mengelurkan poluisi udara sama dengan 780 juta mobil. Oleh karena itu, sebagai negara maritim dengan potensi kelautan yang luar biasa, Indonesia tidak boleh mengabaikan laut sebagai prioritas utama pembangunan. Memang, untuk kembali meraih kejayaan maritim tersebut banyak tantangan yang harus dihadapi Indonesia melalui berbagai isuk pertahanan dan keamanan yang berdampak pada ekosistem lingkungan seperti perikanan, ekologis, bahkan kedaulatan.

Mari saatnya kejayaan maritim Indonesia kita kembalikan. Sudah cukup kita kehilangan beberapa pulau yang di klaim negara tetangga seperti pulau Sipadan dan Ligita. Oleh karena itu sudah seharusnya bangsa ini berbenah dan bangkit dari keterpurukan untuk meningkatkan dan membangun strategi guna mengoptimalkan pertanahan dan keamanan laut pertiwi.
 Ayo………..Bangkit Indonesia dari tidur panjangmu sebelum semuanya terlambat.

Selain mengoptimalkan pertanahan dan keamanan dalam bidang kemaritiman perlu juga menambahan pengetahuan dasar tentang betapa pentingnya mencintai maritim demi masa depan bangsa. Hal ini bisa kita lakukan melalui berbagai lembaga salah satunya adalah pendidikan. Dengan pendidikan yang berkualitas akan memberikan dampak tersendiri bagi kemaritiman Indonesia. Lalu bagaimana peran kita sebagai pelajar ? untuk itu kita sebagai pelajar tentunya harus mendukung dan berpartisipasi guna menyukseskan program pemerintah tersebut. karena pelajar adalah merupakan bagian dari ujung tombak bangkitnya semangat maritim Indonesia.

Hari demi hari terus berjalan tak terasa, sebentar lagi Indonesia kita akan bertemu dengan 2045, satu abad kemerdekaan Indonesia. Apakah pada tahun ini keadaan maritim bangsa ini masih sama seperti sekarang, lebih baik, atau pun lebih buruk ? Untuk menjawab semua persoalan tersebut di atas kita harus bekerjasama dan bersatu. Ingat !!! Nenek moyang kita pernah menoreh tinta emas maritim nusantara pada masa lalu dan kini saatnyalah kita sebagai generasi muda untuk berkarya membangun kembali kejayaan maritim Indonesia.

Di tulis oleh : Hariyadi
Mahasiswa S1 FISIP Prodi. Ilmu Administrasi Bisnis
Universitas Terbuka, UPBJJ Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Perwakilan Indonesia
pada Nusantara Leadership Camp 2014 Tingkat Asia Tenggara
Putrajaya - Malaysia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar